welcome to my simple writing, may be useful for us all, amen

Akhirnya penyuntingan Campus Pelangi selesai juga, meski banyak yang belum sempurna. Namun, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, jadi sepertinya tidak apa-apa jika blog saya ini tidak sempurna. (ngeles mode : ON) ^_^

Seperti yang saya tulis dalam ucapan Selamat Datang, Chu Pelangi, ini adalah tempat di mana ketujuh warna terkumpul. "Terkumpul" loh ya!, bukan "berkumpul". Sebab kata "terkumpul" dan "berkumpul" memiliki makna yang berbeda. "Berkumpul" artinya sengaja mengumpulkan diri, dan "terkumpul" artinya tidak sengaja berkumpul. Yah, begitulah kira-kira. :)

hooooh.. indahnya pelangi itu di antara derasnya air terjun di atas sungai yang tenang.. seandainya aku di sana.. dan menjadi sebutir embun di dalamnya

Rabu, 13 Oktober 2010

PENINGKATAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN Oleh Ela Sukminawati, S.Pd

A. Dasar Pemikiran
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan
secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan
pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya
mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek kesehatan,
kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan
sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olah raga.
Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan motorik,
kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-
emosional-spritual-dan sosial), serta pembiasan pola hidup sehat yang bermuara untuk
merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan
penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang
berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa
untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani,
bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan terencana.
Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk
gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan
berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan/olahraga,
internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan
pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam
kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik mental, intelektual,
emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan
sentuhan dikdakdik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai
tujuan pengajaran.
Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai
pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif,
inovatif, terampil, meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta
pemahaman terhadap gerak manusia.
Namun kenyataan di lapangan dalam masa transisi perubahan kurikulum dari
kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yang semula pendidikan jasmani dan
kesehatan dengan alokasi waktu 2 jam per minggu @ 40 menit, sekarang Pendidikan
Jasmani dengan alokasi waktu 3 jam per minggu @ 40 menit, masih banyak kendala
dalam menerapkan kurikulum tersebut. Hal ini disebabkan karena belum adanya
sosialisasi secara menyeluruh di jajaran pendidikan sehingga masih banyak perbedaan
penafsiran tentang pendidikan jasmani utamanya dalam pembagian waktu jam
pelajaran.
Adanya ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2004
untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA MA sebenarnya sangat membantu
pengajar pendidikan jasmani dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi
kegiatan siswa. Adapun ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi aspek permainan
dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri / senam, aktivitas ritmik, aktivitas
ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas.
Sesuai dengan karakteristik siswa SMP, usia 12 – 16 tahun kebanyakan dari mereka
cenderung masih suka bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan
pembelajaran yang efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan
karakteristik dan kebutuhan siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek
perkembangan manusia baik itu kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami
perubahan. Perubahan yang paling mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan
fisik dan psikologis.
Agar standar kompetensi pembelajaran pendidikan jasmani dapat terlaksana sesuai
dengan pedoman, maksud dan juga tujuan sebagaimana yang ada dalam kurikulum,
maka guru pendidikan jasmani harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan
menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi dalam
pembelajaran.
B. Identifikasi Masalah
Dengan adanya kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pedoman bagi guru
dan merupakan bahan kegiatan dalam pembelajaran, maka siswa perlu mempelajari
dan melaksanakan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan. Untuk
mencapai standar kompetensi tersebut bukanlah yang mudah. Adapun permasalahan-
permasalahan yang muncul dilapangan sebagai berikut:
1. Banyak dikalangan pendidikan yang belum memahami tentang perbedaan
Pendidikan Jasmani dan Olah Raga.
2. Kurangnya pemahaman dari siswa tentang maksud dan tujuan pendidikan jasmani
sehingga pada proses pembelajaran belum semua antusias untuk beraktivitas jasmani.
3. Kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya tubuh bugar dan sehat, sehingga
mereka mengikuti pendidikan jasmani hanya sekedar ikut dan memperoleh nilai.
C. Perkembangan Mata pelajaran Pendidikan Jasmani
Pendidikan pada dasarnya berperan mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
sasarannya adalah peningkatan kualitas manusia Indonesia baik itu sosial, spiritual
dan intelektual, serta kemampuan yang profesional. Untuk itu pembangunan
keolahragaan perlu dikembangkan dan ditingkatkan diseluruh tanah air terutama di
sekolah–sekolah yang nantinya dapat menunjang proses belajar siswa .
Mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian
integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek
kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, kemampuan
sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan
pengenalan lingkungan bersih melalui aktifitas jasmani, olahraga dan kesehatan
terpilih yang direncanakan secara sistimatis dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasional.
Pendidikan sebagai suatu pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup,
pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki
peranan yang sangat penting, yaitu memberikan kesempatan pada anak didik untuk
terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani,
olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistimatika. Pembekalan
pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan
pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan
bugar sepanjang hayat.
Pendidikan memiliki sasaran pedagogik, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap
tanpa adanya pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, karena gerak merupakan
aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri
yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.
Dalam perkembangannya yang terjadi selama ini telah terjadi kecendrungan dalam
memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan
kognitif. Pandang ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral,
akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill.
Dengan adanya mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan
merupakan salah satu media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan
psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai
(sikap-mental-sportivitas-spritual-sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang
bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis
yang seimbang.
Usaha – usaha yang perlu dilakukan untuk melaksanakan usaha di atas adalah salah
satunya dengan melakukan pembinaan olahraga disekolah-sekolah, serta melakukan
olahraga secara rutin, kegiatan olahraga yang dilakukan di sekolah tidak hanya terpaut
dengan waktu 2 x 45 menit atau selama proses belajar mengajar berlangsung.
Kegiatan yang dilaksanakan di sekolah harus terarah dan terencana, guna mencapai
tujuan kesegaran jasmani yang diinginkan.
Salah satu bidang studi yang cukup penting dalam rangka peningkatan kesegaran
jasmani adalah mata pelajaran Pendidikan Jasmani. Tujuan pendidikan jasmani di
sekolah adalah membantu siswa dalam peningkatan kesegaran Jasmani melalui
pengenalan dan penanaman sikap positif serta kemampuan gerak dari berbagai
aktivitas jasmani, sedangkan fungsi dari Pendidikan jasmani yang disajikan di sekolah
memiliki fungsi antara pengembangan aspek: (a) organic, (b) neuro moscular, (c)
perceptual, (d) social dan (e) emosional (Depdiknas : 2003b)
D. Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Teori-teori tentang upaya meningkatkan kebugaran tubuh telah banyak dikemukakan
oleh para pakar. Dalam hubungannya dengan penelitian ini, penulis mencoba
menggunakan model pembelajaran beraktivitas jasmani sambil bermain. Aktivitas ini
merupakan salah satu metode yang tepat dimana keaktifan dan keterlibatan siswa
dalam proses pembelajaran sekalipun sambil bermain mereka sudah melaksanakan
kegiatan jasmani sebagai upaya untuk menjaga kebugaran tubuh. Hal ini sangat bagus
untuk melatih kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa.
Dari judul tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan bermain merupakan variabel bebas (independent variable), sedangkan tingkat kesegaran jasmani siswa sebagai variabel terikat (dependent variable).
1. Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang
didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan
motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan
kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif dan
afektif setiap siswa.
Pengalaman yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa
manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan
efektif. (Kurikulum Penjas SMP, 2004).
Dari banyak pendapat tentang pengertian pendidikan jasmani, dapat disimpulkan
pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani
yang direncanakan secara sistematik diarahkan untuk mengembangkan dan
meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan
emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional. (Pedoman Khusus
Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP, 2004).
2. Materi Pendidikan Jasmani SMP/MTs
Struktur materi pendidikan jasmani dikembangkan dan disusun dengan menggunakan
model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewwet, Ennis, and
Bain, 1995). Asumsi yang digunakan oleh kedua model ini adalah untuk menciptakan
gaya hidup sehat dan aktif, manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani
dengan menggunakan resep latihan yang benar. Materi mata pelajaran pendidikan
jasman SMP/MTs meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Pengalaman mempraktikkan latihan untuk mempertahankan dan meningkatkan
kebugaran jasmani
b. Pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar atletik, senam, permainan dan
beladiri
c. Keterampilan memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, pengetahuan
hakikat kebugaran jasmani, serta pengetahuan praktis latihan kebugaran jasmani
d. Penerapan peraturan, dan praktik yang aman dalam pelaksanaan kegiatan atletik,
senam, permainan dan beladiri
e. Perilaku yang menggambarkan sikap sportif dan positif, emosi yang stabil, dan
gaya hidup yang sehat
Materi pendidikan jasmani SMP/MTs merupakan kelanjutan dari materi di Sekolah
Dasar, dan dilanjutkan di SMA. Mater pembelajaran untuk kelas VII dan VIII
SMP/MTs meliputi keterampilan dasar olahraga, kesegaran jasmani, dan
pembentukan sikap dan perilaku untuk membentuk kecakapan hidup personal.
3. Karakteristik Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SMP/MTs,
yang mempelajari dan mengkaji gerak manusia secara interdisipliner. Gerak manusia
adalah aktivitas jasmani yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kebugaran
jasmani dan keterampilan motorik, mengembangkan sikap dan perilaku agar terbentuk
gaya hidup yang aktif. Aktivitas jasmani yang dilakukan berupa aktivitas bermain,
permainan, dan olahraga
4. Karakteristik Siswa SMP/MTs
Selama di SMP/MTs, seluruh aspek perkembangan manusia yaitu psikomotor,
kognitif, dan efektif mengalami perubahan yang luar biasa. Siswa SMP/MTs
mengalami masa remaja, satu periode perkembangan sebagai transisi dari masa anak-
anak menuju masa dewasa. Masa remaja dan perubahan yang menyertainya
merupakan fenomena yang harus dihadapi oleh guru.
1) Perkembangan aspek psikomotorik Wuest dan Lombardo (1974) menyatakan
bahwa perkembangan aspek psikomotor seusia siswa SMP/MTs ditandai dengan
perubahan jasmani dan fisiologis secara luar biasa. Salah satu perubahan luar biasa
tersebut adalah pertumbuhan tinggi badan dan berat badan.
2) Perkembangan aspek kognitif, Arasoo T.V (1986) menyatakan bahwa aspek
kognitif meliputi fungsi intelektual, seperti pemahaman, pengetahuan, dan
keterampilan berpikir. Untuk siswa SMP/MTs perkembangan kognitif utama yang
dialami adalah formal operasional yang mampu berfikir abstrak dengan menggunakan
simbol-simbol tertentu. Selain itu ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas
memori dan bahasa, dan perkembangan konseptual.
3) Perkembangan aspek afektif, Menurut Arasoo T.V (1986), ranah afektif
menyangkut perasaan, moral dan emosi. Perkembangan afektif siswa SMP/MTs
mencakup proses belajar perilaku dengan orang lain atau sosialisasi. Sebagian besar
sosialisasi berlangsung lewat pemodelan dan peniruan orang lain.
E. Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain
Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang
dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk
pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada
dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan
fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka.
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan
perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya
imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh
karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya
memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan
yang akan dilakukannya.
Pendekatan permainan adalah suatu proses penyampaian pengajaran dalam bentuk
bermain tanpa mengabaikan materi inti. Permainan yang dimaksukan disini adalah
permainan kecil yang materinya disesuaikan dengan standar kompetensi dalam
kurikulum. Permainan kecil ini dapat digunakan untuk mengajar Atletik, senam dan
cabang olahraga lainnya yang ada hubunganya dengan pendidikan jasmani.
Menurut Cholik, M (1997) Pelajaran pendidikan jasmani di sekolah bukan mengejar
prestasi (aspek skill) tetapi menyalurkan dorongan-dorongan untuk aktif bermain.
Pendidikan jasmani untuk anak harus lebih menekankan kepada aspek permainan dari
pada teknik cabang olahraganya karena bermain adalah kebutuhan yang harus
dipenuhi oleh setiap manusia pada umumnya dan siswa khususnya. Jadi dengan
demikian permainan dikonsentrasikan pada pendekatan memahami masalah yang
didasarkan atas domein kognitif, dirancang oleh guru untuk mengarahkan siswa

memahami kegiatan dan tujuan ketrampilan dalam kegiatan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk membantu kelompok kecil atau individu yang tekniknya masih kurang.
Dengan menyeimbangkan penekanan pada domein kognitif, afektif dan psikomotor
dalam kegiatan fisik berupa bermain, diharapkan dapat menarik keinginan siswa bila
mereka dibantu dan dorong oleh gurunya. Bermain merupakan aktifitas yang dapat
membentuk kepribadian dan penemuan diri bagi siswa. Penekanan dalam bermain
akan menjadikan mata pelajaran Pendidikan Jasmani sesuatu yang sangat
menyenangkan dan sangat menarik dan selalu ditunggu-tunggu oleh siswa. Dengan
pendekatan permainan kecil untuk mencapai tujuan pelajaran akan mempunyai
dampak dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
1. Menempatkan permainan kecil menjadi fokus dari mata pelajaran Pendidikan jasmani yang dapat meningkatkan kegembiraan dan kepuasan pada diri siswa dalam melakukan gerakan-gerakan untuk bermain, dalam rangka mencapai unsur kesegaran jasmani.
2. Memungkinkan siswa yang kurang terampil berolahraga dan kurang
menyenangi olahraga akan menyenangi kegiatan jasmani atau olahraga seperti
kawan-kawan lain yang secara jasmaniah berbakat dalam olahraga.
3. Mendorong siswa untuk belajar mengambil keputusan mereka sendiri dalam
waktu yang sangat singkat.
4. Keterampilan olahraga tidak mutlak harus dimiliki oleh siswa laki-laki saja
tetapi siswa perempuan harus mampu untuk melakukannya.
Jadi dengan demikian dari berapa pendapat para pakar di atas maka dapat kita
hubungkan dengan kenyataan yang ada, maka gerakan bermain siswa akan
menemukan dirinya sendiri sebagai suatu kesatuan yang lahir tersendiri dengan ciri-
ciri tubuh dan kapasitas dirinya sendiri. Konsep yang timbul tentang dirinya adalah
mempertinggi ego seperti perhatian terhadap ketangkasan dan akal dan pikirannya.
F. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani merupakan aspek yang sangat penting dari kesegaran jasmani
secara keseluruhannya, yang nantinya akan memberikan kesanggupan pada seseorang
untuk menjalani hidup yang produktif serta dapat menyesuaikan diri setiap beban fisik
yang layak, (Sutarman, 1975). Kemampuan seseorang untuk menunaikan tugasnya
sehari – hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, dan masih
mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk keperluan yang mendadak.
Dapat pula ditambahkan, kesegaran jasmani merupakan kemampuan untuk
menunaikan tugas-tugas dengan baik walaupun dalam kedaaan sukar, dimana orang
yang kesegaran jasmaninya kurang, tidak akan dapat melakukanya (Sumosardjono,
1992). Jadi dengan demikian dapat dikemukakan bahwa ada komponen-komponen
yang dapat mempengaruhi kesegaran jasmani, yaitu : (a) kondisi fisik setelah
melakukan tugas-tugas yang diberikan tetap baik; (b) kemampuan atau kapasitas
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas sehari-hari; (c) Kemampuan untuk
mengatasi situasi dalam keadaan sukar.
Tingkat kesegaran jasmani sangat penting dan sesuai dengan kebutuhan siswa yan



selalu dihadapkan dengan kegiatan jadwal pelajaran yang padat, karena bila kesegaran
jasmani meningkat akan dapat memberikan hal yang berarti terhadap ketahanan
jasmaniah. Seseorang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi akan memiliki
kekuatan dan ketahanan untuk melakukan aktifitas kehidupan tanpa mengalami
kelelahan yang berarti.
Selanjutnya “Seseorang yang mempunyai dasar kesegaran jasmani yang baik, dan
perkembangan badan yang kuat melalui aktifitas jasmani, akan lebih memiliki
pandangan keingintahuan sebab mempunyai semangat hidup yang lebih besar dan
tingkat tenaganya yang tinggi. Tenaga tersebut diperlukan untuk menyelesaikan
tugasnya dan kegiatan rutin” (Adisasmita, 1989). Dari penjelasannya dapat
dikemukakan bahwa kesegaran jasmani merupakan faktor penentu dalam segala aspek
kehidupan. Seorang yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi atau tingkat
kondisi tubuh yang prima akan dapat melakukan aktivitas yang lama dengan beban
yang cukup, tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
Dengan meningkatnya kesegaran jasmani siswa, dia akan mempunyai daya tahan
tubuh terhadap berbagai macam penyakit yang akan mengganggu aktivitas belajarnya.
Kekebalan terhadap penyakit merupakan faktor yang sangat penting. Seorang siswa
yang dikatakan dalam kondisi baik (fit) kesegaran jasmaninya, berarti kekebalan
tubuhnya terhadap serangan penyakit keturunan maupun penyakit yang datangnya
dari lingkungan semakin membaik. Kesegaran jasmani dapat dikelompokkan sebagai
berikut : ”(a) kekebalan terhadap serangan penyakit; (b) kekuatan dan ketahanan otot;
(c) Ketahanan cardiorespiratory; (d) daya otot (muscular power); (e) fleksibelitas; (f)
kecepatan; (g) kelincahan; (h) koor-dinasi; (i) keseimbangan; (j) ketepatan” (Ahady
dan Heiri 1982).
Sadoso (1989 : 9) Kesegaran jasmani adalah keadaan atau kemampuan seseorang
untuk melakukan aktivitas atau tugas-tugasnya sehari-hari dengan mudah tanpa
mengalami kelelahan yang berarti dan masih mempunyai siswa atau cadangan tenaga
untuk menikmati waktu senggangnya untuk keperluan-keperluan lainnya.
Komponen atau faktor kesegaran jasmani dan komponen kesegaran motorik
merupakan satu kesatuan utuh dari komponen kondisi fisik. Agar seseorang dapat
dikategorikan kondisi fisiknya baik, maka status komponen-komponennya harus
berada dalam kondisi baik pula. Adapun komponen atau faktor jasmani adalah :
kekuatan, daya tahan kelenturan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan banyak sekali hal-hal yang dapat
mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya yaitu melalui
aktifitas jasmani. Pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa
dalam upaya menjaga dan sekaligus meningkatkan tingkat kesegaran jasmani. Dengan
mempertimbangkan karakter dan perkembangan siswa guru harus dapat
merencanakan dengan matang proses pembelajaran. Dalam membuat perencanaan
tersebut guru bisa menggunakan pendekatan, teknik, metode ataupun model
pembelajaran.
G. Simpulan
1. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang,
salah satunya yaitu melalui aktivitas jasmani. Dengan demikian pendidikan jasmani
dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan
meningkatkan kesegaran jasmani.
2. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani sangat diperlukan adanya model
dan variasi pelajaran. Untuk itu pengajar sebaiknya dapat membuat model ataupun
modifikasi pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran dengan
pendekatan bermain.
H. Referensi
Ahady, Muchtar, Hairy , Junusul . 1982 . Kesegaran Jasmani. Padang : FPOK IKIP
Padang
Bafirman . 1989 . Pembinaan Kesegaran Jasmani, Padang : FPOK IKIP Padang.
Cholik, M. 1977. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Jakarta, Proyek Pengembangan
Guru Sekolah Dasar
Depdiknas, 2003. Kurikulum 2004; Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan
Jasmani SMP dan MTs. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Depdiknas, 2003, Undang-Undang R.I Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Jakarta : Depdiknas
J. Mata Kupan, 2002, Teori Bermain, Jakarta : Universitas Terbuka
Ngalim Purwanto. M, 2003, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktik, Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Sutarman. 1975. Pengertian Kesegaran Jasmani dan Tes Kardiorespirasi, Concepts
of Scineces. Ed.Sic. Swanpo dan Marry W. Sic, Jakarta ; KONI.
Tim Penyusun. Pendidikan Jasmani SMP/MTs. Jakarta : Depdiknas.
Winata Putra Udin, 1994, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka
Yusuf, Adisasmita. 1989. Hakikat, Filsafat dan Peranan Pendidikan Jasmani Dalam
Masyarakat. Jakarta :D epdikbud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar